Minggu, 17 Maret 2019

Bupati Kepulauan Seribu Mengantisipasi Datangnya Tsunami

Bupati Kepulauan Seribu Mengantisipasi Datangnya Tsunami 

Bupati Kepulauan Seribu Mengantisipasi Datangnya Tsunami

AGEN POKER Mengatasi datanganya Tsunami Di kepulauan Seribu Bupati akan membagikan Pelampung untuk warga di Kepulauan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah menyoroti rentannya daerah wisata terhadap bencana alam. Sebagai salah satu Bali Baru yang diunggulkan meraup wisatawan, Kepulauan Seribu perlu menjaga diri dari bencana tsunami. Bupati Kepulauan Seribu punya ide baru untuk memikat wisatawan.

Kepulauan Seribu terdiri atas perairan dan pulau seluas 4.745,62 km persegi. Ada 110 pulau, 11 di antaranya adalah pulau berpenghuni. Dengan kondisi geografis seperti ini, mitigasi bencana adalah hal yang perlu. Kita perlu alat pendeteksi tsunami dan menyambungkan alat deteksi tsunami dengan early warning system di pulau. Sampai sekarang belum ada sistem peringatan dini supaya masyarakat bisa siap, kata Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad kepada wartawan, pada hari Selasa.

Dia menjelaskan, warga di pulau-pulau besar bisa lari ke bukit bila tsunami terdeteksi bakal tiba. Namun di Kepulauan Seribu, tak ada bukit yang cukup tinggi yang bisa menjadi tujuan warganya lari menyelamatkan diri dari potensi tsunami. Di pulau, warga disuruh lari ke mana? Tidak ada, ujarnya. Maka Husein memunculkan ide agar tiap-tiap warga Kepulauan dibekali baju pelampung atau life jacket. Bila sampai ada air yang menerjang, setidaknya warga masih bisa terapung di permukaan air.

Maka timbul pemikiran saya masyarakat harus diberi life jacket. Jadi dia harus bisa bersahabat dan survive sendiri di air, karena tidak ada tempat lari, ujar Husein. Belum ada rencana realisasi ide ini. Bila saja ide itu terealisasi, 23 ribu orang bakal mendapat satu baju pelampung.

Penduduk asli Pulau Tidung yang juga keluarga pemilik usaha penginapan Griya Rahma, Adlan Kamil, menjelaskan kejadian tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu berefek pada sepinya tamu penginapan. Namun soal tsunami itu sendiri, Adlan tak terlalu risau. Dia sangat yakin Kepulauan Seribu aman dari tsunami.

Kakek saya pernah cerita, waktu Krakatau meletus tahun 1883, Pulau Tidung tetap aman meski ada gelombang 8 meter, kecuali hanya ujung barat dan ujung timur saja yang kena, kata Adlan. Dia menanggapi ide pemberian baju pelampung untuk tiap warga yang dicetuskan Bupati Husein. Kalau kena gelombang, siapa yang jamin kita tidak terbentur benda-benda? Daripada mengadakan baju pelampung, lebih baik pemerintah banyak-banyakin acara doa bersama sajalah, tuturnya.

Di Pulau Harapan, ada Bahrudin alias Jagur yang mengaku khawatir juga terhadap potensi tsunami. Soalnya, tempat hidup mereka dikelilingi laut. Istrinya, Komariah alias Kokom, mengaku lebih khawatir terhadap puting beliung ketimbang tsunami. Soalnya, Pulau Harapan pernah diterjang puting beliung kuat pada 2012.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan perihal pentingnya mitigasi bencana di kawasan destinasi wisata. Hal ini disampaikannya setelah publik Indonesia digemparkan oleh peristiwa tsunami di Selat Sunda.

Industri pariwisata sangat rentan terhadap bencana. Apabila tidak dikelola dengan baik, dampaknya akan mempengaruhi ekosistem pariwisata dan pencapaian target kinerja pariwisata. Pariwisata sering kali diasosiasikan dengan kesenangan, dan wisatawan melihat keamanan dan kenyamanan sebagai satu hal yang esensial dalam berwisata. Bencana merupakan salah satu faktor yang sangat rentan mempengaruhi naik-turunnya permintaan dalam industri pariwisata, kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya.

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 menurunkan jumlah wisatawan di Yogyakarta dan Jawa Tengah hampir 50 persen. Erupsi Gunung Agung di Bali tahun 2017 menyebabkan 1 juta wisatawan berkurang dengan kerugian Rp 11 triliun di sektor pariwisata. Gempa Lombok 2018 menyebabkan 100 ribu wisatawan berkurang dengan kerugian Rp 1,4 triliun di sektor pariwisata. Tsunami di Selat Sunda 22 Desember 2018 menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan miliar di sektor pariwisata.

Rencana pembangunan 10 Bali Baru atau 10 destinasi pariwisata prioritas yang akan dibangun, yaitu Danau Toba, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu dan Kota Tua, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, Mandalika, Morotai, dan Labuan Bajo, hendaknya mengaitkan mitigasi dan pengurangan risiko bencana sehingga daerah pariwisata tersebut aman dari bencana. Faktanya, 8 dari 10 daerah prioritas pariwisata tersebut berada pada daerah yang rawan gempa, dan sebagian tsunami, kata Sutopo.

Sabtu, 16 Maret 2019

BNN Berhasil Menggagalkan 20 Kilogram Sabu Asal Taiwan

BNN Berhasil Menggagalkan 20 Kilogram Sabu Asal Taiwan

BNN Berhasil Menggagalkan 20 Kilogram Sabu Asal Taiwan

AGEN POKER Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Barat berhasil mengungkap penyelundupan sabu seberat 20 kilogram asal Taiwan. Empat orang tersangka diamankan dalam operasi kali ini. Kepala BNN Jawa Barat Brigjen Sufyan Syarif mengatakan tim gabungan melakukan pengintaian terhadap empat tersangka inisial AG, LI, AJ dan GI selama dua pekan dari mendapatkan laporan dari Jakarta.

Tim gabungan membuntuti para pelaku yang bergerak Sukabumi menuju Dumai untuk mengambil barang haram tersebut. Barang tersebut pesanan seseorang inisial J. AG dapat order dari J. Barang sabu dijemput di Dumai Sumatera, dibawa ke Pekanbaru. Kemudian bersama-sama pulang lewat Palembang, Lampung, kita ikutin sampai balik ke Sukabumi lagi, kata Sufyan di kantor BNN Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, pada hari Senin.

Para pelaku akhirnya diamankan petugas gabungan pada 9 Februari 2019 di Sukabumi. Barang haram tersebut di bawa dalam tas menggunakan dua unit mobil. Barang bukti ini dikemas menggunakan bungkus teh china warna kuning. Di simpan dalam tas. Ini barangnya dari Taiwan via sindikat Aceh, tuturnya.

Menurut Sufyan, pengungkapan peredaran sabu 20 kilogram ini pengembangan kasus 2,2 ton ganja yang diungkap Februari 2016 di Cianjur. Pelaku AG merupakan daftar pencarian orang (DPO) kasus tersebut. Dia (AG) dan LI sebagai perekrut AJ dan GI sebagai sopir untuk mengatar J untuk mengambil barang haram tersebut, ucapnya.

Ia mengatakan barang haram tersebut rencananya diedarkan di sejumlah wilayah. Daerah peredarannya di Jabar dan DKI Jakarta, ucap Sufyan.

BNN Jawa Barat berhasil mengungkap penyelundupan 20 kilogram sabu jaringan asal Taiwan ke Sukabumi Jawa Barat. Bisnis sabu ini dikendalikan narapidana Rutan Medaeng, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kepala BNN Jabar Brigjen Sufyan Syarif mengatakan tersangka berinisial J merupakan pengendali AG, LI, AJ dan GI yang menyelundupkan 20 kilogram sabu dari Dumai (Riau) menuju Sukabumi (Jawa Barat).

Dia (J) yang order ke AG untuk ambil barang di Dumai, kata Sufyan di kantor BNN Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, pada hari Senin. Dia menuturkan tersangka J mengendalikan sabu asal Taiwan via Aceh ini dari balik jeruji besi. J merupakan narapidana kasus serupa yang diungkap BNN Jatim.

Salah seorang tersangka J ini di (Rutan) Medaeng. ini tahanan BNN Jatim kasus dua kilogram sabu, ujar Sufyan. Menurutnya, 20 kilogram sabu tersebut rencananya diedarkan para pelaku di dua provinsi. Barang haram tersebut dikemas dalam 20 bungkus.

Rencananya diedarkan di Jakarta dan Jawa Barat, ujar Sufyan. Pengungkapan peredaran sabu 20 kilogram ini pengembangan kasus 2,2 ton ganja yang ungkap Februari 2016 lalu di Cianjur. Pelaku AG merupakan DPO kasus tersebut. Pengungkapan ini pengembangan dari kasus ganja 2,2 ton 2016 lalu di Cianjur. AG ini DPO kasus tersebut. Dia (AG) dan LI sebagai perekrut AJ dan GI sebagai sopir, kata Sufyan.

BNN Jawa Barat akan memperdalamin keterkaitan penyelundupan 20 kilogram sabu ke Sukabumi dengan kasus 9,54 kilogram sabu yang menjerat Zul 'Zivilia'. Sebab, barang haram tersebut sama-sama asal Taiwan dan dibungkus dengan bungkusan teh. Iya mungkin di atasnya satu jaringan Taiwan. Tapi kita mesti kembangkan penyelidikan ke sana ada atau tidaknya keterkaitan dengan kasus Zul 'Zivilia' dengan 20 kilogram sabu di Sukabumi, kata Kepala BNN Jabar Brigjen Sufyan Syarif di kantor BNN Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, pada hari Senin.

Ia menuturkan akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk mendalami keterkaitan jaringan tersebut. Mengingat, Sufyan menjelaskan, pengungkapan kedua kasus sabu itu melibatkan dua wilayah berbeda. Nanti kita koordinasi dengan Polda Metro Jaya apakah ini masih ada rangkaian satu jaringan, ucapnya.

Menurut Sufyan, narkoba jenis sabu banyak diproduksi di China dan Taiwan. Biasanya, sambung dia, jaringan kedua negara tersebut menyelundupkan sabu melalui Aceh dan Kepulauan Riau. Jaringan Taiwan masuk melalui sindikat Aceh, kalau enggak Kepri, ujar Sufyan.

BNN Jabar mengungkap penyelundupan 20 kilogram sabu dari Dumai (Riau) menuju Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 9 Februari 2019. Petugas menangkap empat tersangka inisial AG, LI, AJ, dan GI. Mereka dikendalikan oleh salah satu napi, inisial J, dari Rutan Medaeng, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Sementara, Zul 'Zivilia' ditangkap tim Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya di sebuah apartemen di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 28 Februari 2019. Selain Zul, polisi saat itu menangkap 3 tersangka lainnya, yakni MH alias Rian (26), HR (28), dan seorang perempuan, D (26). Barang bukti yang diamankan 9,54 kilogram sabu dan 24 ribu butir pil ekstasi.

Jumat, 15 Maret 2019

Anak Bunuh Ibu kandungnya Sendiri

Anak Bunuh Ibu kandungnya Sendiri

Anak Bunuh Ibu kandungnya Sendiri

AGEN POKER Karena sering di marahin sama ibunya sendiri seorang ibu di Gresik akhirnya tewas dibunuh sama anaknya sendiri dirumahnya. Korban, bernama Ranis (55), ditemukan tak bernyawa setelah ditebas lehernya oleh anaknya sendiri Rozikin (28) dengan sebilah celurit yang mengenai tubuhnya. Kasus pembunuhan ini berawal saat korban memarahi anak kandungnya sendiri karena sering memintai uang kepadanya. Usai dimarahi oleh ibunya, pelaku menaruh dendam dan emosi terhadap ibunya yang sering marah kepadanya.

Rupanya emosi pelaku semakin hari semakin menjadi-jadi lalu meledaklah emosi tersebut. Tanpa adanya rasa kasihan terhadap ibunya yang kebetulan saat itu sedang sakit demam sehingga tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, pelaku menyabet leher ibunya yang sedang tiduran di ruang tamu itu. Dalam sekali tebas, leher korban nyaris putus. Korban tewas di tempat.

Usai membunuh ibu kandungnya sendiri dirumahnya. Pelaku langsung melarikan diri dan bersembunyi di rumah keduanya sambil menyembunyikan benda yang celurit leher ibunya yang digunakan untuk membunuh. Namun polisi berhasil menemukan pelaku dan meringkusnya tanpa perlawanan dan dibawa kekantor polisi Dukun.

Saya sangat tega membunuh ibu sendiri karena sering dimarahi terus-menerus oleh ibunya. Sehingga, emosi menjadi-jadi lalu saya bunuh dengan sebilah celurit, ujar Rozikin di depan penyidik Polsek Dukun, pada hari Minggu. Tanpa penyesalan Rozikin terus mengomel sewaktu diperiksa. Bahkan, dengan nada datar dia mengaku tidak sedih setelah membunuh ibu kandungnya sendiri.

Gak sedih blas wes mari mateni ibuku dewe (Tidak sedih sama sekali setelah membunuh ibu sendiri), ungkapnya. Terkait dengan kejadian kasus pembunuhan ini, Kapolres Gresik AKBP Wahyu Sri Bintoro menuturkan diduga pelaku mengalami gangguan jiwa. Sebab, pelaku yang merupakan anak ketiga korban tidak ada rasa sedih sama sekali sewaktu membunuh.

Ada dugaan pelaku ada gangguan jiwa. Kendati demikian kami tetap melakukan pemeriksaan dengan membawa pelaku ke rumah sakit jiwa apakah ada sangkut paut dengan kejiwaan, tuturnya. Sementara Kepala Desa (Kades) Madumulyorejo Matrozim menyatakan sebelum membunuh pelaku memang mengalami depresi. Pelaku memang pernah diperiksakan ke rumah sakit. Pelaku kondisinya kejiwaannya labil. Meski saat ditangkap tidak melakukan perlawanan, pungkasnya

Kamis, 14 Maret 2019

Yuk Dorong Wisata Alam Indonesia Masih Banyak Yang Belum Tahu

Yuk Dorong Wisata Alam Indonesia Masih Banyak Yang Belum Tahu

Yuk Dorong Wisata Alam Indonesia Masih Banyak Yang Belum Tahu

AGEN POKER Memasuki musim angin peneduh barat sedang menjelang pungkasan, lautan tenang meski cuaca sedikit mendung, wartawan bersama Teras Kapal BRI Bahtera Seva I mengunjungi pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, dari tanggal 18 hingga 22. Kami berjumpa dengan wajah lain dari Jakarta yang dikenal selama ini. Bukan wajah pusat kota yang padat dan hiruk pikuk, namun kawasan nelayan dan pariwisata di tengah laut. Perairan dan pulau seluas 4.745,62 km2 menghampar dilautan, bersiap menjadi salah satu destinasi Bali baru.

Ada 110 pulau di seberang daratan perkotaan Jakarta, bila ditotal luas daratannya 8,70 km persegi. Demikian Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlahnya pada laporan tahun 2017. Jadi meski namanya Kepulauan Seribu, jumlah pulaunya sendiri tak sampai seribu. Pulau-pulau kecil tanpa permukiman warga jumlahnya lebih banyak.

Namanya memang Pulau Seribu tapi sebenarnya adalah 110 pulau-pulau yang berpenghuni dan tak berpenghuni. Ada 11 pulau berpenghuni, sisanya adalah pulau resor, pulau konservasi, dan pulau cagar budaya bekas jajahan jaman belanda, kata Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad di RPTRA Pulau Panggang, pada hari Selasa. Menurut data BPS, Penduduk Kepulauan Seribu berjumlah 23.639 jiwa pada 2016. Angkatan kerja yang tercatat setahun sebelumnya ada 9.959 orang. Ada 3.375 orang nelayan di Kepulauan Seribu.

Selain menjadi nelayan, ada pula yang bekerja di sektor pariwisata atau pemandu. Tercatat pada 2015, penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel, dan restoran ada 2.602 orang. Mayoritas penduduknya masih mengandalkan dari pekerjaan nelayan, kata Husein. Meski mayoritas penduduk Kepulauan Seribu bermata pencaharian nelayan, namun kawasan ini bergerak menuju arah kawasan wisata. Kepulauan Seribu masuk menjadi salah satu dari 10 Destinasi Wisata Prioritas atau biasa disebut 10 Bali Baru yang ditetapkan pemerintah sejak 2016. Artinya, pariwisata akan semakin dikembangkan di sini, kata Husein.

Alih Profesi yang akan di ajarkan sebagai pemandu wisata, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan 20 juta turis datang ke Indonesia pada 2019. Kepulauan Seribu menjadi salah satu wilayah yang direncanakan bisa turut menyumbang pemenuhan target itu.

Sektor pariwisata menjadi potensi unggulan Kepulauan Seribu. Warga yang berprofesi sebagai nelayan didorong untuk beralih profesi mendukung potensi turisme ini. Menyiapkan masyarakat nelayan menjadi masyarakat sadar pariwisata perlu dilakukan dari hal yang paling mendasar. Budaya pariwisata tentu perlu dibentuk. Sekarang menyiapkan masyarakat juga menghadapi perubahan dalam rangka Kepulauan Seribu menjadi kawasan wisata. Itu harus disiapkan secara mental dan kultur. Biasanya nelayan kemudian menjadi penerima tamu, kan beda. Ini perlu kita siapkan, kata dia

Persiapan yang penting menurutnya meliputi juga soal sarana dan prasarana wisata. Perilaku menjaga kebersihan juga bakal terus diusahakan, karena wisata bahari perlu laut dan pantai yang bersih, berikut tiap jengkal pulau juga perlu terjaga. Saat ini, kata Husein, sudah banyak penduduk yang beralih profesi menjadi pelaku usaha wisata seperti membuka homestay, menjadi pemandu wisata, dan menyewakan perahu-perahu yang semula digunakan untuk mencari ikan untuk mengantar wisatawan ke titik destinasi antar pulau yang ada di sekitar.

Kita inginkan Pulau Seribu ini berkembangnya lebih jauh lagi, pertama, ke arah wisatawan. Kedua, rakyat harus digerakkan dengan budi daya ikan yang ada di laut, kata dia. Jadi ada dua alih profesi yang didorong pemerintah setempat, yakni nelayan menjadi pengusaha sektor pariwisata dan nelayan tangkap menjadi pembudidaya perikanan. Budidaya ikan dirasanya perlu karena saat ini hasil tangkapan ikan mulai berkurang akibat terlalu banyak pengambilan ikan di laut (overfishing). Belum lagi, nelayan tangkap sering terkendala cuaca dan angin musim.

Karena nelayan tangkap sudah tidak bisa lagi kita andalkan menjadi tulang punggung utama. Harus sudah mulai beralih. Makanya dihidupkan keramba-keramba, kata Husein. Budidaya ikan Kepulauan Seribu dinilainya punya potensi luar biasa. Bila berhasil, daratan Jakarta tak perlu lagi mendatangkan hasil laut dari provinsi lain atau sekitar Pulau Jawa. Budidaya ikan juga dinilai lebih ramah lingkungan ketimbang pekerjaan nelayan tangkap. Bila laut tidak rusak, maka pariwisata bahari tetap terjaga, tamu-tamu bakal tetap tertarik datang untuk snorkeling atau menyelam menikmati keindahan bawah laut dengan trumbu karang yang cantik dan ikan hias berbagai macam.

Pariwisata dan budidaya ikan, akan kita coba gabung dengan penduduk sekitar Pulau Seribu. Supaya masyarakat hidup dari budidaya ikan, di lain pihak alam ini juga tidak rusaknya ekosistem laut dan trumbu karang. Arah ke depannya seperti itu, kata Husein.

Suara warga ingin didengar dan ditindak lanjuti apa yang salah, Mustari (55), sudah menjadi nelayan sejak usianya belia, sekitar tahun '70-an. Saat wartawan menemuinya di Pulau Harapan, dia menceritakan hasil tangkapan ikan era ini memang tak sebanyak zaman dulu. Bagusan dulu, jauh. Dulu saya nggak usah jauh-jauh melaut tapi bisa dapat 8 atau 9 kg tangkapan sehari. Dulu ikan kerapu banyak. Sekarang jarang, kata Mustari.

Alat menangkap ikannya adalah pancing dan rawai. Biasanya dia membentangkan rawai semalaman dan baru mengangkat hasilnya pagi hari. Melaut berhari-hari atau 'babang' sudah biasa dilakoninya. Nelayan di sini penghasilannya tak pasti, sehari bisa mendapat Rp 300 ribu namun sering juga tidak dapat apa-apa. Menjadi petambak juga perlu usaha awal dan uang. Alih profesi untuk total bekerja di sektor pariwisata belum terlintas di benak Mustari. Membuka homestay perlu modal uang dan lahan.

Yang alih profesi itu sebagian. Ada juga nelayan yang Sabtu-Minggu menjadi pengantar wisatawan, dapat Rp 200 ribu, jadi guide dua hari menemani snorkeling, kata dia. Ada Bucek (38) dan Ale (30), nelayan yang kini menjadi anak buah kapal (ABK) KM Zahro, kapal ojek tradisional dari Pulau Tidung. Ale mengakui tangkapan ikan akhir-akhir ini makin sulit didapatkannya karena kurangnya kesadarannya manusia untuk menjaga keindahan laut.

Ikan Tongkol saja tidak ada tidak seperti kayak dulu. Sudah berkurang populasinya dan menjauh dari kepulauan Seribu. Nggak tahu lari ke mana, apa banyak penangkapan di wilayah lain atau bagaimana. Kalau sini kan pakai pancing, yang pakai jaring bisa dihitung jari karena mahal, tutur Ale.

Saat wartawan menemui mereka, pada hari Kamis, suasana sedang lesu tidak ada turis yang datang. Tak ada penumpang atau wisatawan yang menggunakan jasa mereka. Wisatawan memang tak setiap saat ramai datang. Namun bila kondisi seperti ini terus, maka Ale dan kawan-kawannya akan menjadi nelayan lagi, mencari ikan meski tak mudah. Kenapa tak buka homestay?

Buka homestay kan tergantung modal awalnya dan pembangunan rumahnya. Kalau kita kan pas-pasan. Buat makan sehari-hari saja sulit, sahut Bucek. Namun selain Mustari, Bucek, atau Ale, banyak masyarakat Kepulauan Seribu yang sukses menjalankan usaha yang berkaitan dengan pariwisata Misalnya jasa homestay, pemandu wisata, atau berjualan makanan kecil hingga makanan berat.

Pasangan suami istri Bahrudin alias Jagur (53) dan Komariah alias Kokom (50) misalnya, mereka berhasil menjalankan bisnis homestay di Pulau Harapan. Bukan hanya itu, mereka juga membangun iklim pariwisata di Pulau Harapan. Setelah 2013, Pulau Harapan menjadi mulai ramai wisatawan kemudian banyak homestay di sana. Dulu masih banyak rumah bilik semipermanen, tapi sekarang rumah seperti itu sudah tidak ada. Ini berkat pariwisata lokal yang pertama datang kesana, membuat acara, mendokumentasikan perjalanan mereka sehingga banyak yang penasaran tentang pulau tersebut, kata Kokom.

Rabu, 13 Maret 2019

Polisi Blitar Berhasil Menangkap Prostitusi Online

Polisi Blitar Berhasil Menangkap Prostitusi Online

Polisi Blitar Berhasil Menangkap Prostitusi Online

AGEN POKER Prostitusi online di Blitar yang melibatkan anak-anak di bawah umur di Kabupaten Blitar berhasil diungkap polisi Blitar. Tersangka menggunakan group di medsos untuk menawarkan anak buahnya. Dalam postingannya, tersangka menawarkan pemandu lagu atau biasa disebut LC yang sekaligus bisa diajak kencan. Mereka yang tertarik dengan tawaran tersangka, akan mengirim pesan melalui inbox. Dilanjutkan dengan saling bertukar nomor handphone untuk melaksanakan transaksi langsung. Menariknya, para pelanggan kebanyakan adalah pengunjung tempat karaoke di Blitar.

Tersangka atau mucikari protitusi online adalah Reza Satya Angga Pratama (24) warga Jalan Bromo No 23/25 Rt 01/05 Kepanjenkidul Kota Blitar. Tim cyber troop melakukan patroli, lalu mendapati chatting grup di medsos. Kami pancing seorang anggota menghubungi tersangka dan berhasil kami ungkap prostitusi online itu, kata Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha dalam rilis di mapolres, pada hari Jumat.

Reza Satya Angga Pratama (24) warga Kota Blitar ini melibatkan anak-anak dalam prostitusi online yang dia kelola. Dia mematok harga sekali kencan untuk anak-anak sebesar Rp 1,5 juta. Dalam menjalankan aksinya selama ini, Reza selalu menggunakan media group medsos untuk menjaring pelanggannya. Dua anak-anak yang telah dipersiapkan Reza untuk pelanggan hidung belang masih berusia 13 dan 14 tahun. Dalam komunikasi via handphone disepakati, mereka bertemu di sebuah hotel melati di wilayah Beru, Kecamatan Wlingi.

Di depan wartawan, Reza mengaku mendapatkan dua anak itu dari temannya yang sama dengan saya. Temannya itu, menurut Reza sudah terbiasa mencarikan teman wanita bagi para pengunjung karaoke di Kota Blitar. Saya jemput mereka di Penataran. Lalu saya bawa ke hotel yang sudah ditentukan. Begitu ketemu pelanggan, terima uang, biasanya mereka saya tinggal, kata lelaki bersemir rambut pirang itu.

Dari kesepakatan, dua anak itu ditawarkan senilai Rp 3 juta. Mereka bisa bermain sendiri-sendiri atau dua langsung, kata Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha dalam rilis di mapolres, pada hari Jumat. Dari harga itu jelas Anissullah, kedua korban masing-masing mendapatkan uang Rp 1,2 juta. Sedangkan Reza selaku mucikari mendapat komisi Rp 600 ribu sekali transaksi.

Reza juga mengaku, selain dua anak yang dibawa saat itu, ada beberapa anak lain yang menjadi anak buahnya. Namun, dia juga menawarkan wanita dewasa untuk menemani para pelanggannya setianya. Begitu tersangka keluar kamar hotel, petugas dengan sigap menangkapnya. Turut diamankan dari lokasi kejadian dua buah HP milik tersangka dan korban, uang tunai Rp 3 juta, uang tunai dari resepsionis hotel sebesar Rp 210 ribu dan sebuah kunci kamar nomor 15, tempat dilakukan transaksi.

Kegiatan prostitusi online ini menurut Anissullah diungkap tim cyber troop Polres Blitar setelah melakukan patroli di medsos dan mendapati chatting group. Kami pancing seorang anggota menghubungi tersangka dan berhasil kami ungkap prostitusi online itu, ungkap Kapolres Blitar. Reza juga mengaku, selain dua anak yang dibawa saat itu, ada beberapa anak lain yang menjadi anak buahnya. Namun, dia juga menawarkan wanita dewasa untuk menemani para pelanggannya.

Karena korbannya adalah anak di bawah umur, sebagaimana Pasal 76 I jo Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, atas perubahan UU Nomor 23 tahun 2002, atau Pasal 45 ayat (1) sub Pasal 27 ayat 1 UU RI No 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI No 11 Tahun. Tersangka Reza diancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Selasa, 12 Maret 2019

Seorang Istri lagi Asik Chattingan Dengan Pria Lain Di Bekasi

Seorang Istri lagi Asik Chattingan Dengan Pria Lain Di Bekasi

Seorang Istri lagi Asik Chattingan Dengan Pria Lain Di Bekasi

AGEN POKER Karena chattingan dengan orang lain seorang wanita berinisial N tewas di tangan suaminya sendiri, berinisial S. S sudah merencanakan pembunuhan itu lantaran cemburu karena sang istri ketahuan chatting dengan pria lain di handphonenya melalui Whatsapp dan Facebook. Hasil dari pengakuan, tersangka S melakukan pembunuhan berencana karena sakit hati dan merasa kesal terhadap korban, karena cemburu bahwa pernah diketahui di HP korban ada komunikasi dengan laki-laki lain, kata ujar Kapolsek Serang Baru AKP Wito dalam keterangannya, pada hari Rabu.

Pembunuhan itu terjadi pada hari Rabu dini hari di rumah korban di Desa Sirna Jaya, Serang Baru, Kabupaten Bekasi. Sebelumnya tersangka S merencanakan pembunuhan itu dengan mengajak tersangka M. Tersangka ini curhat kepada tersangka M, kemudian merencanakan pembunuhan pada tanggal 26 Februari 2019, ungkap Wito.

Keduanya mengeksekusi korban tepatnya pada hari Rabu, pada pukul 01.00 WIB. Saat itu korban sedang tertidur pulas bersama anaknya, HK (4). Pembunuhan dilakukan ketika korban tidur di samping anaknya sendiri. Kedua pelaku datang ke rumah korban lewat pintu belakang menuju ke kamar tidur yang kebetulan korban sedang tidur, imbuhnya.

Tersangka M kemudian membekap mulut dan hidung korban menggunakan handuk kecil dan bantal sambil mencekik leher korban. Sedangkan tersangka S memegang tangan dan kaki korban supaya korban tidak meronta-ronta. Setelah korban diduga sudah meninggal, langsung ditutup dengan seprai warna ungu. Kemudian motor Honda Scoopy milik korban berikut STNK, helm, dan dompet dibawa oleh M ke rumah AL di Jonggol, Bogor, ujar Wito.

Atas suruhan tersangka S dengan tujuan menghilangkan jejak pembunuhan berencana tersebut, ungkapnya. Selesai membunuh korban, pelaku menghilang sejenak. S kembali datang ke rumahnya sekitar pukul 05.00 WIB dan menemukan anaknya yang sedang menangisi kematian ibunya.

Tersangka S datang untuk mengambil anaknya yang saat itu sedang menangis, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ungkapnya. Kematian korban ini kemudian sedang diusut oleh polisi. Hasil olah TKP dan identifikasi, polisi menemukan sejumlah kejanggalan atas kematian N.

Dari hasil penyelidikan, ada beberapa kejanggalan kematian korban N. Dan setelah selesai dilakukan olah TKP pada hari Senin, 4 Maret 2019 pada pukul 22.00 WIB, diperoleh beberapa kesimpulan yang kemudian digabungkan adanya beberapa keterangan dan langsung dilakukan penyelidikan yang mengarah pada pelaku S, paparnya. Polisi kemudian berhasil menangkap S di Kampung Gebang Malang RT 01/01 Desa Sirna Jaya, Kecamatan Serang Baru, Bekasi, pada hari Selasa pukul 23.00 WIB. Tersangka pun mengaku membunuh korban dengan bantuan tersangka M.

Selanjutnya polisi menangkap tersangka M. Keduanya dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dari hasil pemeriksaan, S mengaku membunuh korban karena cemburu saat membaca chattingan dengan pria lain. Rumah tangga keduanya juga sering ribut, bahkan korban sudah meminta cerai kepada S.

Menurut pengakuan tersangka, korban juga sering menghina pelaku dan orang tuanya dengan kata-kata nggak sudi ke rumahmu, rumahmu banyak penyakit, banyak virus, yang akhirnya korban dan tersangka pisah rumah selama satu bulan, ujarnya.

Senin, 11 Maret 2019

Tanpa Mendapatkan Restu Orang Tua ABG Nekat Mendaki Tanpa Peralatan

Tanpa Mendapatkan Restu Orang Tua ABG Nekat Mendaki Tanpa Peralatan

Tanpa Mendapatkan Restu Orang Tua ABG Nekat Mendaki Tanpa Peralatan

AGEN POKER Orang tua dari salah satu abg yang meninggal bercerita, Castuni (43) tak kuasa membendung air matanya saat jenazah anaknya, Ferdi Firmansyah (13) digotong menuju pemakaman umum sekitar rumah. Seruan tahlil mengiringi setiap tetes air mata Castuni. Lailahaillallah..lailahaillah..lailahaillah.., ucap sejumlah pelayat saat jenazah Ferdi Firmansyah digotong menuju pemakaman umum Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada hari Senin.

Maut yang menjemput Ferdi bersama rasa penasarannya tentang temannya yang mendaki gunung itu enak dan senang. Ya, Ferdi nekat mendaki karena ingin mengetahui puncak Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang. Ferdi tak sendiri. Tampomas menjadi saksi, dua teman Ferdi, yakni Lucky Parikesit (13) dan Agip Trsakti (15) menghembuskan nafas terakhirnya di gunung Tampomas. Hipotermia menyerang ketiganya.

Keberadaan  ketiga remaja yang ditemukan dengan terbujur kaku di dalam tenda itu pertama kali diketahui pendaki lainnya yang melintas melihat ketiga nya sudah terbujur kaku, pada hari Minggu. Saksi lalu melaporkannya kepada pihak penjaga pos pendakian pegunungan Tampomas. Tim SAR gabungan lalu dikerahkan untuk mengevakuasi para korban asal Indramayu tersebut. Saat ditemukan, ketiga korban dalam posisi meringkuk seperti menahan kedinginan di Pos 4 Gunung Tampomas. Dugaan sementara mereka bertiga karena hipotermia. Saat ditemukan tubuh para korban seperti meringkuk menahan dingin, kata Humas dan Protokoler Basarnas Kantor SAR Bandung, Joshua Banjarnahor kepada wartawan.

Ketiga ABG  yang berasal dari Kota Mangga itu nekat mendaki gunung dengan perlengkapan yang kurang memadai dan pengalaman yang minim. Tak hanya itu, restu orang tua pun diabaikan mereka. Ya, para remaja itu nekat berangkat mendaki tanpa mendapat izin dari orang tuanya. Menurut Castuni, Ferdi, Lucky dan Agip nekat berangkat ke Tampomas setelah Subuh pada hari Sabtu. Sebelum mereka berangkat, Castuni tak menampik sempat adu mulut dengan Ferdi. Castuni melarang Ferdi untuk mendaki gunung.

Saya sudah larang. Saya tidak mengizinkan. Karena tidak sama sekolahnya, kalau sama gurunya kan ada yang jaga, kata Castuni saat berbincang dengan wartawan di kediamannya di Gang BTM Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mata Castuni berkaca-kaca saat berbincang dengan wartawan tentang Ferdi. Terlebih lagi, lanjut Castuni, Ferdi tak memiliki pengalaman untuk mendaki gunung. Baru pertama kali mendaki, ucapnya. Castuni mengatakan Ferdi dan Lucky penasaran ingin mendaki setelah mendengar cerita dari teman sekolahnya yang sudah pernah mendaki, katanya.

Hal senada disampaikan Darlim (47), ayah dari Lucky. Darlim mengaku Lucky nekat mengabaikan omongannya demi menuruti nafsunya. Lucky memiliki hasrat yang menggebu-gebu untuk mendaki gunung. Bahkan, Lucky nekat berbohong kepada ayahnya. Waktu izin ke saya itu tidak mendaki, tapi izinnya itu pengen tur sama temennya. Saya tidak memberi izin, kata Darlim saat berbincang dengan wartawan usai pemakaman anaknya di tempat pemakaman Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada hari Senin.

Darlim melarang Lucky. Namun, Lucky juga sempat meminta izin ke ibunya, Surniti (44). Jawaban yang didapat Lucky pun sama seperti yang dikatakan ayahnya. Surniti melarang Lucky. Sempat izin ke saya. Tapi saya larang. Karena masih bocah, sekolahnya juga baru kelas VII SMP. Ibunya juga melarang, kata Darlim. Lucky rupanya mencari kesempatan untuk berangkat ke Tampomas. Motor bebek milik orang tua Lucky pun dibawa. Perjalanan dari Indramayu menuju Tampomas ditempuh menggunakan satu motor, ya motor milik orang tua Lucky. Orang tua ketiga remaja itu mengaku tak merasakan firasat apapun terkait pendakian maut yang menimpa anaknya.

Saya pikir anak saya tidak ikut. Berangkatnya saya tidak tahu, katanya sih pagi-pagi. Motor yang dipakai itu punya Lucky, kata Darlim. Sama halnya dengan Ferdi, dikatakan Darlim, Lucky baru pertama kali mendaki gunung. Selama ini, menurut Darlim, Lucky hanya main di sekitar rumah. Ya saya tahu pos-pos bermainnya. Di sini-sini saja, di biliar biasanya. Dekat rumah, kata Darlim. Pada hari Minggu , ketiga remaja itu dikabarkan tewas dengan kondisi kaku di dalam tenda. Baju ketiga ABG tersebut basah semua akibat hujan. Enggak bawa pakian ganti, jaket atau sleeping bag, kata Humas dan Protokoler Basarnas Kantor SAR Bandung Joshua Banjanahor.

Saat ketiga korban ditemukan dalam kondisi pakaian yang basah akibat hujan mereka tidak menggan. Tidak ditemukan pakaian ganti atau jaket dalam barang bawaan ketiganya. Identitas juga luput dari barang bawaan ketiganya. Menurut Joshua, kondisi pakaian yang basah membuat ketiganya sangat mungkin mengalami hipotermia. Apalagi, saat itu angin di Gunung Tampomas cukup kencang. Mereka ala kadarnya pakai kaos dan celana. Gak bawa pakaian ganti, jaket atau sleeping bag, ungkap dia.

Kapolres Indramayu AKBP M. Yoris mengatakan ketiganya merupakan warga Blok Kuang BTM, Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Indramayu. Mereka berangkat dari rumahnya masing-masing menuju Gunung Tampomas, pada hari Sabtu, pukul 06.00 WIB. Mereka yang pergi menggunakan satu unit motor Nopol E 5560 PAV, kata Yoris kepada wartawan, pada hari Minggu

SPG Di Kaltim Mencuri Kosmetik Hingga Ratusan Juta Rupiah

SPG Di Kaltim Mencuri Kosmetik Hingga Ratusan Juta Rupiah Ada seorang SPG di Samarinda, Kalimantan Timur yang harus berurusan dengan ap...