Selasa, 16 April 2019

Sunguh Sadis Suami Bacok Istri Bersama Selingkuhannya Di Oki Sumsel

Sunguh Sadis Suami Bacok Istri Bersama Selingkuhannya Di Oki Sumsel

Sunguh Sadis Suami Bacok Istri Bersama Selingkuhannya Di Oki Sumsel

Sunguh sadis seorang suami yang berada di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, secara sadis menghabisi istrinya dan selingkuhannya. Alasannya tidak lain adalah si istri berselingkuh dengan pria lainnya. Pria yang diduga selingkuhan si istri juga tewas ditangan suaminya. Pelaku adalah Nasir (45), warga Talang Rimba, Cengal, Ogan Komering Ilir. Ada dua korban tewas adalah istrinya, Siti Kaini (40), dan Ajono alias Jono (50). Keduanya dibantai di kebun karet tak jauh dari rumahnya, pada hari Jumat.

Sipelaku ini cemburu, dia bilang istrinya sudah lama selingkuh dengan korban. Jadi waktu mereka bertemu, si pelaku langsung bacok leher korban laki-laki, kata Kapolres OKI AKBP Donni saat dimintai konfirmasi lewat telepon oleh wartawan, pada hari Sabtu. Setelah membacok leher Jono hingga nyaris putus dan memastikan korban tewas, pelaku mendatangi istrinya. Dia pun melayangkan parang ke leher si istri hingga akhirnya tewas di lokasi.

Kedua korban meninggal dibacok sama pelaku di kebun karet. Setelah itu, pelaku pulang dan menyerahkan diri ke Polsek Cengal. Sekarang sedang dibuat BAP, imbuh Kapolres. Sipelaku mengaku sudah lama tahu dan kemarin adalah waktu yang tepat untuk dia menghabisi korban. Pelaku ini sudah punya rencana untuk membunuh kedua korban, kata Donni.

Bernama Nasir (45) yang nekat membacok sang istri, Siti Kani (40), dan pria idaman lain (PIL)-nya, Ajono alias Jono, karena diselingkuhi. Setelah membunuh dua orang itu, Akhirnya Nasir menyerahkan dirinya ke polisi. Nasir telah berhasil membunuh kedua korban, tersangka langsung pergi meninggalkan TKP menuju Polsek Cengal untuk menyerahkan diri berikut barang bukti parang yang digunakan tersangka untuk membacok kedua korban, kata Kapolres Ogan Komering Ilir (OKI) AKBP Donni Eka saat dimintai konfirmasi oleh wartawan, pada hari Sabtu.

AKBP Donni menjelaskan Nasir memilih menyerahkan diri karena takut pihak keluarga korban melakukan balas dendam. Setiba Nasir di Polsek Cengal, anggota langsung mengamankannya ke Mapolres OKI. Beberapa lama Setelah tersangka tiba di Polsek Cengal, karena khawatir akan ada serangan balasan dari keluarga korban, tersangka langsung dibawa ke Polres OKI dan saat ini tersangka di Polres OKI dalam keadaan aman, ungkapnya.

Pembunuhan itu terjadi pada hari Jumat di sebuah kebun di karet Talang Rimba, Cengal, OKI. Pembunuhan tersebut dilatarbelakangi sakit hati karena Nasir diselingkuhi istirinya selama 1 tahun. Peristiwa pembunuhan ini membuat geger warga. Pasalnya, kedua korban ditemukan tewas mengenaskan setelah dibacok pelaku.

Untuk alasan keamanan dari serangan keluarga korban, pelaku pun langsung dibawa ke Mapolres. Pelaku terancam Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman mati.

Senin, 15 April 2019

Seorang Ibu Depresi Yang Menguburkan Anaknya Secara Hidup-hidup

Seorang Ibu Depresi Yang Menguburkan Anaknya Secara Hidup-hidup

Seorang Ibu Depresi Yang Menguburkan Anaknya Secara Hidup-hidup

Bernama W (35) yang depresi menguburkan anaknya secara hidup-hidup, oleh seorang ibu di Kabupaten Purwakarta buta hati. Ibu W dengan nekat mengubur hidup-hidup buah hatinya sendiri yang baru berusia 5 bulan. Saat itu beruntung bayi tersebut selamat dari maut. Bayi mungil tak berdosa itu dikubur oleh W di belakang rumahnya di Kampung Pasirmuncang, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada hari Rabu. Bayi itu selamat setelah bibinya, Atikah (35) menggali lubang di belakang rumah W.

Berawal dari kecurigaan bibi bayi Atikah. Dia melihat sang bayi tak bersama W, yang berujar bayi telah hilang. Atikah tak lantas mempercayai dan langsung menuju ke belakang rumah lantaran hari sebelumnya melihat W tengah menggali lubang. Kemudian saksi Atikah langsung memeriksa ke belakang rumah dan menemukan ada dua lubang. Selanjutnya lubang yang pertama digali, tapi tidak membuahkan hasil. Lalu menggali lubang kedua dan menemukan ada kain putih dan tangan bayi, kemudian oleh saksi dan dibantu warga membawa bayi tersebut ke Puskesmas Wanayasa, ucap Kapolsek Kiarapedes IPTU Toto Herman Permana belum lama ini.

Lalu sang bayi lantas dirujuk ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Bayu Asih Purwakarta untuk mendapatkan perawatan medis secara intensif. Namun hingga kemarin,kondisi sang bayi terus menurun saat di rawat di RSUD Bayu Asih Purwakarta, Jawa Barat. Direktur Utama RSUD Bayu Asih Agung Darwis mengatakan penurunan kondisi bayi diakibatkan adanya pasir yang terhirup ke paru-paru si bayi. Pasir tersebut masuk memenuhi paru-paru yang diketahui merupakan alat vital pernafasan. Bayi mungil itu masih tergolek lemas tak berdaya.

Kondisinya kurang bagus, kritis, kata Agung. Kami sudah melakukan segalanya, jam 9 malam kemarin kita melakukan tranfusi, tapi memang bayinya masih hipotermi. Suhunya masih rendah 33 derajat celsius, yang normalnya kan 37,5 sampai 38, dia menambahkan. Di samping itu, polisi ikut bergerak. Polisi melakukan pemeriksaan terhadap W. Hasil pemeriksaan, polisi menyebut W diduga mengalami depresi.

Kondisi ibu bayi W yang mengalami depresi ini pun diamini oleh Ujang Solihin, suami W yang juga ayah bayi malang itu. Solihin menuturkan W depresi saat mengandung bayi tersebut. Depresi karena dulu pas kandungan tujuh bulan, dia diperiksa ke bidan. Katanya anak posisi kepalanya di atas, ada tulisan di buku kalau posisi seperti itu berbahaya. Jadi istri saya kepikiran terus. Enggak bisa tidur, satu malam itu tidurnya hanya dua jam, ujar Solihin.

Solihin menyebut sang istri juga kerap melamun saat mengandung anaknya itu. Hal ini dialami istrinya setelah melahirkan bayi tersebut. Dia mengungkapkan saat ini istrinya dibawa ke rumah mertuanya atau rumah orang tua W untuk mendapat pendampingan dari pihak keluarga. W Pasca melahirkan anaknya, istri sering melamun dan gelisah. Kalau waktu melahirkan anak pertama enggak apa-apa, normal, katanya.

Bupati Purwakarta Ibu Anne Ratna Mustika ikut bicara. Dia turut mengunjungi bayi itu. Menurut Anne, peristiwa ini baru pertama kali terjadi di Purwakarta. Dia terkejut saat mengetahui adanya kabar mengerikan ini. Namun ibu Anne tidak sepenuhnya menyalahkan sang ibu korban. Anne memerintahkan Dinkes Purwakarta sosialisasi tentang bahaya baby blues syndrome dan depresi pasca melahirkan.

Saya sudah koordinasi dengan Plt Kadinkes kesehatan, segera mengumpulkan bidan desa se-Kabupaten Purwakarta pada hari Minggu depan di aula Yudistira. Untuk dilakukan penyuluhan dan sosialisasi mengenai kehamilan dan sikap yang harus di lakukan pada ibu hamil, kata Bupati Anne.

Minggu, 14 April 2019

3 Orang PRT Indonesia Kabur Dari Rumah Majikannya

3 Orang PRT Indonesia Kabur Dari Rumah Majikannya

3 Orang PRT Indonesia Kabur Dari Rumah Majikannya

Terdapat tenaga kerja Indonesia di malaysia yang berusaha kabur dari rumah majikannya ada tiga pembantu rumah tangga (PRT) yang berasal dari Indonesia di Malaysia melarikan diri dari rumah majikan mereka setelah mengaku dianiaya. Seorang majikan yang kerjakan ketiga PRT itu disebut merupakan seseorang yang bergelar Tan Sri di Malaysia.

Telah diketahui bahwa Tan Sri merupakan gelar federal paling senior kedua, di bawah Tun, dan sebutan kehormatan yang digunakan untuk penerima gelar kehormatan Panglima Mangku Negara (PMN) dan Panglima Setia Mahkota (PSM). Gelar Tan Sri dianugerahkan oleh Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong.

Seperti yang dilansir oleh media lokal di Malaysia, pada hari Jumat, ketiga tenaga kerja PRT itu diyakini kabur dari sebuah bungalo di wilayah Country Heights, Kajang, yang berjarak 23 kilometer dari Kuala Lumpur. Mereka dibantu seseorang yang membawa mereka ke Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur untuk meminta bantuan lebih lanjut.

Para pejabat kedutaan mengajukan laporan pada tanggal 22 Maret terkait dugaan penganiayaan, sebut Wakil Komisioner Kepolisian Kajang, Ahmad Dzaffir Mohd Yussof dalam pernyataannya. Ketiga tenaga kerja yang sebagai korban, yang berusia 25-41 tahun, telah bekerja pada majikan mereka, masing-masing selama tujuh tahun, empat tahun dan enam bulan, imbuhnya. Identitas ketiga PRT asal Indonesia itu tidak diungkap lebih lanjut ke publik.

Kepada polisi setempat, ketiga PRT itu mengaku mendapatkan perlakuan kasar dari majikan mereka. Identitas majikan ketiga PRT ini juga tidak diungkap lebih lanjut, hanya disebut bahwa si majikan bergelar Tan Sri dan tinggal di area kelas atas di Kajang. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa mereka ketiga PRT kabur karena tidak tahan menghadapi perlakuan kasar oleh majikan mereka dan istrinya yang seorang Puan Sri, ucap Ahmad Dzaffir. Diketahui bahwa Puan Sri merupakan sebutan kehormatan untuk istri seorang Tan Sri.

Para tenaga kerja Indonesia itu mengklaim mereka dipukul dan ditampar, juga ditahan gaji dan paspor mereka, ujarnya. Disebutkan Ahmad Dzaffir bahwa ketiga PRT itu melarikan diri dari rumah majikannya dengan memanjat pagar, kemudian dibantu seorang pria yang tidak mereka kenal, yang bersedia membawa mereka ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia.

Dari penyelidikan di lokasi berujung penyitaan dua paspor dan sebuah i-card milik para korban yang ditahan oleh sekretaris tersangka, ungkap Ahmad Dzaffir. Sedang dalam pemeriksaan medis pada korban menunjukkan tidak ada tanda-tanda luka fisik. Pemeriksaan yang sama juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda penganiayaan seksual atau mental pada korban, imbuhnya. Ditambahkan Ahmad Dzaffir bahwa ketiga korban telah dikirimkan ke sebuah tempat aman di suatu lokasi, setelah perintah perlindungan sementara diterbitkan pengadilan setempat.

Sabtu, 13 April 2019

Nenek Mengaku Bisa Menggandakan Uang Dengan Ratusan Juta

Nenek Mengaku Bisa Menggandakan Uang Dengan Ratusan Juta

Nenek Mengaku Bisa Menggandakan Uang Dengan Ratusan Juta

Saat ini polisi berhasil menangkap nenek bernama Tampa (61) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Seorang nenek itu diduga melakukan penipuan dengan modus mengaku bisa menggandakan uang dengan cepat. Penipuan baru diketahui setelah korban bernama Hapsa melapor ke polisi. Sinenek atau sipelaku meminta korban menyetor uang Rp 100 juta dengan mengiming-imingi uang bisa berlipat ganda menjadi Rp 2 miliar.

Pada bulan September 2017 datang korban Haji Hapsa bilang mereka mau kontrak rumah untuk berdagang di situ. Dua hari kemudian datang anaknya Haji Hapsa dari Jogja, dan dia pelaku mengiming-imingi orang apabila memasukan uang sebesar Rp 100 juta akan dilipat gandakan menjadi Rp 2 miliar, sehingga haji Hapsa percaya, ujar Kapolsek Bontoala, Kompol Saharuddin, pada hari Kamis.

Seorang haji Hapsa tergiur dengan tawaran pelaku, korban menyerahkan uang secara bertahap dengan total Rp 350 juta. Pada awal September diserahkan Rp 57 Juta, dua bulan kemudian sempat ditransfer Rp 10 juta, Rp 25 juta. Sampai tiga bulan total menjadi Rp 350 juta, ujar Saharuddin.

Namun hingga dua tahun menunggu, korban tak kunjung mendapatkan hasil yang dijanjikan pelaku. Pelaku malah melarikan diri ke Jakarta. Saat di Jakarta, pelaku kembali menelepon korbannya tersebut dan kembali meminta uang sebesar Rp 200 juta. Kali ini pelaku berjanji segera memberikan uang sebesar Rp 5 miliar yang telah disimpannya.

Pada bulan maret 2019, tersangka menelpon Hapsa meminta Rp 200 juta, dengan alasan apabila ibu membawa uang Rp 200 juta maka uang Rp 5 miliar akan dikeluarkan, dia akan buka kunci ambil uang Rp 5 miliar, sambung Saharuddin. Korban yang datang ke Jakarta akhirnya sadar ditipu. Tapi korban berhasil membawa pelaku ke Makassar. Empat malam kemudian tidak datang itu uang, akhirnya mereka (korban) membawa tersangka ke Makassar, kata Saharuddin.

Para korban penipuan bermodus penggandaan uang yang dilakukan seorang nenek bernama Tampa (61) bertambah. Saat ini korbannya tidak hanya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tapi juga dari sejumlah kota lain. Ada 3 korban lagi melapor, ucap Kapolsek Bontoala Kompol Saharuddin pada hari Kamis.

Saharuddin menyebut tiga korban baru itu atas nama Andi Nurma dari Nunukan, Kalimantan Utara; Wiwi dari Bekasi, Jawa Barat; dan Ferdinand dari Jakarta. Andi ditipu Rp 500 juta, Wiwi Rp 100 juta, sedangkan Ferdinand Rp 100 juta. Para korban menerima kerugian dengan total jadinya sekarang Rp 1,25 M, ujar Saharuddin.

Korban pertama dari nenek Tampa sebelumnya berasal dari Makassar atas nama Hapsa. Dia ditipu Rp 550 juta. Nenek Tampa ditangkap sendiri oleh Hapsa di Terminal Rambutan, Jakarta, dalam pelariannya. Hapsa mengalami kerugian Rp 550 juta saat diiming-imingi nenek Tampa bila uang itu bisa digandakan menjadi Rp 5 miliar. Polsek Bontoala saat ini masih memeriksa intensif nenek Tampa. Selain itu, polisi masih menggali informasi adanya korban lain di sejumlah kota lain.

Jumat, 12 April 2019

Seorang Pria Mebuang Bayi Perempuan Didalam Kresek Disaung Bata Ciamis

Seorang Pria Mebuang Bayi Perempuan Didalam Kresek Disaung Bata Ciamis

Seorang Pria Mebuang Bayi Perempuan Didalam Kresek Disaung Bata Ciamis

Seorang warga Cimaragas, Kabupaten Ciamis digegerkan dengan penemuan bayi cantik dalam kantong kresek yang berada di saung bata, Dusun Rancagede pada hari Kamis siang. Bayi tersebut ditemukan oleh seorang warga saat pulang dari sawah. Bayi berparas cantik itu kini berada di Puskesmas Cimaragas. Kondisinya dipastikan sehat, memiliki berat 2,9 kilogram, panjang 49 sentimeter, lingkar kepala 32 sentimeter dan lingkar dada 30 sentimeter. Pada kaki kanan sebelah bawah terdapat tanda tompel hitam cukup besar. Bayi itu dibungkus oleh baju daster hitam motif bunga.

Menurut pengakuan dari saksi Elin Herlina sebelumnya terlihat ada sebuah mobil Fortuner hitam plat D berhenti di pinggir jalan. Terlihat seorang pria masih muda, membawa kresek dan menaruhnya di atas kayu saung bata. Seorang pria tersebut sempat bertanya arah menuju Ciamis, setelah itu pergi ke arah Banjar. Pria tersebut berlogat Sunda. Waktu saya pulang dari sawah, lihat mobil hitam berhenti. Lalu dihampiri, dikira tamu. Lalu ada laki-laki bawa kresek habis pulang dari saung bata, berpapasan, bertanya mau cari arah jalan ke Ciamis. Saya melihat ada kresek di atas kayu. Takutnya itu bom, tapi terdengar suara bayi sambil kakinya bergerak. Lalu saya berteriak tolong, katanya.

Elin sendiri mengaku sempat lemas setelah menemukan bayi tersebut. Ia berteriak-teriak meminta mobil itu kembali setelah kabur usai membuang bayi. Kata Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Hendra Virmanto membenarkan adanya temuan bayi tersebut. Polres Ciamis saat ini melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian dan mengumpulkan keterangan saksi untuk memburu pelaku pembuang bayi. Setelah ditemukan, kemudian warga melapor ke Polsek Cimaragas. Saat melihat kantong tersebut tenyata bayi berjenis kelamin perempuan itu langsung di bawa ke Puskesmas Cimaragas untuk mendapat perawatan, ujar Hendra.

Bayi yang di temukan dalam kantong plastik sementara itu Bidan Puskesmas Cimaragas Hernawati menyatakan setelah diperiksa, bayi cantik tersebut dalam keadaan sehat. Meski sedikit hipotermia atau kedinginan ringan. Setelah diberi lampu langsung bisa menangis. Diperkirakan bayi tersebut baru satu jam dilahirkan sebelum ditemukan. Kondisi tali pusarnya terlihat masih segar. Saat dicek bayi normal usia 9 bulan dalam kandungan jadi tidak perlu di inkubator, katanya.

Bayi cantik ini sementara masih di Puskesmas Cimaragas, untuk dipantau kesehatannya. Banyak dari warga yang mengetahui adanya penemuan bayi langsung berdatangan kesaung tersebut. Mereka bermaksud ingin mengasuh bayi malang tersebut. Salah satunya, Ujang Solihin. Ia mengaku lokasi penemuan bayi tersebut adalah saung yang dulu ia bangun. Ia bersedia untuk merawat bayi tersebut. Saya siap menempuh prosedurnya asal bisa merawat bayi cantik ini, ujar Ujang.

Rabu, 10 April 2019

Berita Hoaks Selama Ini Dalam Kasus Kelamin Menantu Besar Dibuktikan Polisi

Berita Hoaks Selama Ini Dalam Kasus Kelamin Menantu Besar Dibuktikan Polisi

Berita Hoaks Selama Ini Dalam Kasus Kelamin Menantu Besar Dibuktikan Polisi

Seorang mertua di Probolinggo melaporkan menantunya ke polisi karena diduga menjadi penyebab kematian sang putri lantaran memiliki ukuran kelamin terlalu besar. Namun dugaan tersebut tidak terbukti, karena pada kenyataannya ukuran alat kelamin sang menantu terbilang normal.

Pada hari Rabu, polisi mendatangi pelapor yakni Nedi Sito (55), Warga Dusun Brukan, Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Ia merupakan ayah dari Jumantri, perempuan yang meninggal yang dikatakan kematiannya karena ukuran alat kelamin suaminta, Barsah, terlalu besar. Selain mengumpulkan keluarga korban, polisi juga memanggil sang menantu yang dilaporkan, Barsah. Pertemuan keduanya disaksikan Kades Maron Kidul, Ridwanto.

Agar fakta terungkap, Barsah diminta menunjukkan kelaminnya di hadapan petugas. Yang disaksikan pihak keluarga dan kades setempat. Dalam pembuktian tersebut, semua pihak sepakat bahwa ukuran alat kelamin terlapor normal seperti pria pada umumnya. Setelah difasilitasi antara pelapor dan terlapor, dan melihat secara langsung ukuran alat kelamin yang dikira besar, ternyata ukuran standar orang Asia, jadi saat itu juga mertua mencabut laporannya dan saling memaafkan. kata Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Riyanto, pada hari Rabu.

Nedi meminta maaf pada Barsah karena sebelumnya mempercayai isu yang beredar terkait penyebab kematian sang putri. Kini pihak keluarga lega dan percaya bahwa Jumantri meninggal karena menderita epilesi. Gangguan neurologis jangka panjang itu dideritanya sejak usia 14 tahun.

Nedi melaporkan Barsah setelah mendengar kabar yang beredar terkait kematian Jumantri. Kabar tersebut menyatakan bahwa kematian perempuan tersebut disebabkan ukuran alat kelamin Barsah yang terlalu besar. Nedi begitu gampang termakan isu tersebut, terlebih karena ia tahu bahwa sang putri meninggal setelah melakukan hubungan intim dengan Barsah.

Polisi sudah memastikan jika meninggalnya Jumantri bukan karena alat kelamin sang suami, Barsah yang berukuran tidak wajar. Tapi karena epilepsi yang diderita Jumantri kambuh saat berhubungan badan. Kasat Reskrmin Polres Probolinggo, AKP Riyanto mengatakan, kematian Jumantri murni karena penyakitnya kambuh. Kesimpulan itu diambil polisi setelah melihat hasil rekam medis korban. Jumantri diketahui telah menderita epilepsi atau yang kerap disebut penyakit ayan sejak berusia 14 tahun.

Riyanto meminta masyarakat dan sejumlah pihak tidak membesar-besarkan perkara kematian Jumantri dengan menyebarkan berita hoaxs. Menurutnya, masalah tersebut sudah selesai dengan damai dan kekeluargaan. Bahkan Nedi Sito (55), ayah Jumantri telah mencabut laporannya dari kepolisian. Sebab, Barsah tidak terbukti memiliki alat kelamin melebihi ukuran normal. Saat dilakukan pemeriksaan yang disaksikan pihak keluarga dan kades setempat, ternyata ukuran alat kelamin Barsah sama seperti lelaki pada umumnya.

Intinya masalah laporan dan tuduhan berkelamin besar sudah selesai, dan tak perlu diperpanjang lagi dengan berita yang tidak tetap. Karena baik mertua dan menantunya sudah kompak, memilih jalan damai, imbuh Riyanto saat dihubungi oleh wartawan, pada hari Rabu.

Riyanto berharap, apa yang dialami keluarga Nedi menjadi pembelajaran bagi masyarakat lainnya. Warga diimbau untuk tidak gegabah membuat laporan ke polisi atas informasi atau kabar yang belum jelas kebenarannya. Sebelumnya diberitakan, Nedi, warga Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo melaporkan sang menantu, Barsah karena diduga memiliki ukuran alat kelamin yang terlalu besar.

Ukuran alat kelamin pria tersebut dianggap menjadi penyebab kematian Jumantri. Laporan tersebut Nedi buat setelah mendengar isu tentang ukuran alat kelamin Barsah yang ternyata isapan jempol belaka.

Selasa, 09 April 2019

Seorang Mahasiswa Yang Membunuh Ica Dan Mengahabisi Uang Ica

Seorang Mahasiswa Yang Membunuh Ica Dan Mengahabisi Uang Ica

Seorang Mahasiswa Yang Membunuh Ica Dan Mengahabisi Uang Ica

Penemuan Oon Saonah (33) alias Ica yang tewas dibunuh oleh seorang mahasiswa, inisial RFH (22). Pelaku mencekik mati Ica di kamar hotel. Polisi mengungkap hubungan Ica dan RFH. Mereka berdua adalah korban dan pelaku ini pacaran, ucap Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma'ruf kepada wartawan saat dihubungi melalui telepon, pada hari Selasa. Ica ditemukan tak bernyawa di sebuah hotel di Kota Tasikmalaya kamar nomor 106 pada hari Rabu. Lebih dari sepekan penyelidikan, personel Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota berhasil mengungkap pelaku yaitu RFH. Pemuda tersebut mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Tasikmalaya.

Febry mengatakan keduanya sudah menjalin hubungan asmara selama dua tahun belakangan ini. Sepanjang masa pacaran, kata Febry, tersangka justru memanfaatkan uang dari korban yang sehari-hari berwirausaha. Tersangka ini manfaatin dia. Bahkan tersangka punya pacar yang lainnya, kata Febry. Sesaat sebelum tewas, tersangka dan Ica bertemu di sebuah hotel. Di hotel itulah, tersangka lantas meminjam uang Rp 4 juta. Namun, Ica tak memberi uang tersebut.

Tersangka ini menakut-nakuti dengan mencekik leher korban, tutur Febry. Korban pun teriak. Tak disangka, RFH justru semakin kencang mencekik leher Ica. Tersangka mencekik sampai korban meninggal dunia, ucap Febry. Permintaan tersebut dilakukan RFH saat bertemu dengan Ica di sebuah kamar hotel di Kota Tasikmalaya pada hari Rabu lalu. Kepada polisi, RFH mengaku berniat meminjam uang untuk melunasi hutang.

Tersangka meminjam uang kepada korban, katanya buat bayar utang, tutur Febry. Ica saat itu tak memberi pinjaman. RFH pun naik pitam. Dia lantas mencekik leher Ica. Awalnya cekikan tak begitu keras, namun Ica yang berteriak membuat RFH mengeraskan cekikan hingga Ica tak sadarkan diri.

Tersangka mencekik sampai korban meninggal dunia, kata Febry. Selain menghabisi nyawa kekasihnya, Oon Saonah (33) alias Ica, mahasiswa berinisial RFH (22) menggondol uang Rp 70 juta. Duit itu digunakan RFH untuk foya-foya bersama teman-temannya dan pacarnya. Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma'ruf mengatakan uang tunai sebanyak itu itu berasal dari tas korban. Uang diambil setelah RFH menghabisi nyawa Ica.

Setelah korban meninggal dunia, tersangka mengambil uang tunai Rp 70 juta dari tas korban, ucap Febry kepada wartawan, pada hari Rabu. RFH awalnya hanya ingin meminjam uang sebesar Rp 4 juta kepada Ica. Uang tersebut berdasarkan pengakuan RFH akan digunakan membayar utang. Namun, saat pertemuan di sebuah hotel di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada hari Rabu, Ica tak menuruti permintaan tersangka. RFH murka. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Tasikmalaya itu mencekik leher Ica hingga tewas.

RFH lantas melihat tas Ica. Saat itu, tersangka melihat Ica membawa uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu yang jumlah totalnya mencapai Rp 70 juta lalu RFH meninggalkan hotel. Setelah mengambil uang, tersangka kabur. Tersangka melakukan perbuatannya seorang diri, ujar Febry. RFH diketahui membeli sejumlah barang berharga dari duit tersebut. Uang itu dibelikan barang-barang seperti HP (handphone) dan bayar utang, kata Febry.

RFH dibekuk tim Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota pada hari Senin. Dari penangkapan tersebut polisi mengamankan barang bukti berupa satu unit ponsel, 4 buah buku tabungan yang diduga penyimpanan hasil kejahatan dan bukti setoran bank senilai Rp 25 juta.

Mahasiswa berinisial RFH (22) nekat menghabisi nyawa Oon Saonah (33) alias Ica. Usai membunuh, RFH pun berfoya-foya pakai duit yang digondol dari tangan Ica. Aksi pembunuhan tersebut berlangsung saat keduanya bertemu di sebuah kamar hotel di Kota Tasikmalaya pada hari Rabu lalu. Saat itu, RFH memang hendak meminjam uang sebesar Rp 4 juta kepada Ica untuk membayar utang.

Namun, Ica saat itu tak memberi pinjaman. RFH pun naik pitam. Dia lantas mencekik leher Ica. Awalnya cekikan tak begitu keras, namun Ica yang berteriak membuat RFH mengeraskan cekikan hingga Ica tak sadarkan diri. Tersangka mencekik sampai korban meninggal dunia, kata Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma'ruf.

Ica tak berdaya melawan berdaya melawan kekasihnya itu. Dia kehabisan nafas hingga meninggal dunia di tempat. Selesai membunuh, RFH melihat tas yang dibawa Ica. Ternyata tas Ica penuh dengan duit pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Tanpa pikir panjang ditambah tengah membutuhkan uang, RFH pun langsung membawa uang yang ada di dalam tas Ica itu yang jumlahnya Rp 70 juta.

Setelah korban meninggal dunia, tersangka mengambil uang tunai Rp 70 juta dari tas korban. Setelah itu tersangka kabur, katanya. Febry mengatakan RFH melakukan perbuatannya seorang diri. Uang Rp 70 juta yang digondolnya lantas digunakan untuk foya-foya. Kepada polisi, RFH mengaku sebagian uangnya untuk dipakai bayar utang dan sebagian lagi dibelikan barang elektronik.

Uang itu dibelikan barang-barang seperti HP (handphone) dan bayar utang, ucap Febry. RFH dibekuk tim Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota pada hari Senin. Dari penangkapan tersebut polisi mengamankan barang bukti berupa satu unit ponsel, 4 buah buku tabungan yang diduga penyimpanan hasil kejahatan dan bukti setoran bank senilai Rp 25 juta.

SPG Di Kaltim Mencuri Kosmetik Hingga Ratusan Juta Rupiah

SPG Di Kaltim Mencuri Kosmetik Hingga Ratusan Juta Rupiah Ada seorang SPG di Samarinda, Kalimantan Timur yang harus berurusan dengan ap...